Sharing Karya
Nama : Thania
Tanggal : 08 November 2025
Jadi tujuan bedah
karya ini adalah untuk mendukung, membantu promosi, mengembangkan karya dan
lain sebagainya. Kita akan bahas apa saja yang akan kita lakukan dalam bedah
karya:
1. Dalam bedah karya kita harus melakukan yang namanya
membaca. Sebelum kita mulai pastinya karya yang akan kita bedah sudah di
kirimkan screen shoot an nya untuk di baca dan dipahami.
2. Setelah di baca, kita berikan kesempatan semua satu
per satu untuk menyampaikan pendapat mereka.
"Apa sih cerita yang ada di karya tersebut",
"tentang apa isinya".
3. Nah setelah mendengarkan itu semua baru kita kulik
lebih lanjut bagaimana dari segi penulisan, ataupun bahasanya. Ingat disini
kita bukan menjelekkan tapi berdiskusi dalam arah positif.
4. Setelah itu baru deh, kita dengar proses kreatif
penulis dalam membuat karya tersebut. Proses kreatif disini didalamnya boleh
juga bagaimana penulis awalnya mencoba membuat karya. Bisa jadi Itu puisi
pertama yang pernah di buatnya atau mungkin itu karya yang udah di terbitkan.
Kan kita bisa mengambil pengajaran dan pengalaman bersama dari itu semua.
Apa aja sih yang harus ditentukan saat membuat
outline?
1. Tema (kamu mau buat cerita kayak apa)
2. Tokoh
Semakin banyak
tokoh, semakin panjang cerita yang harus kamu buat. Jadi usahakan kalau mau
cerita cepat selesai jangan hadirkan banyak tokoh. Karena setiap tokoh punya
alasan kenapa dia hadir dan kenapa dia ga hadir, bukan sembarangan saja.
3. Buat rancangan target cerita mu itu berapa bab
(novel) dan berapa paragraf ( kalau cerpen)
4. Dari bab atau paragraf tadi tentuin juga. Untuk
pengenalan berapa bab, untuk memasuki awal konflik berapa, untuk konflik (gong
nya) berapa, bab penyelesaiannya berapa.
Corat coret aja. Jangan ragu untuk berhayal entah
berapa pun itu selagi menurut mu itu sampai. Buat setelah itu baru deh,
tentukan kamu mau bikin cerita ini konfliknya apa. Siapa yang terlibat,
akibatnya apa, trus prosesnya bagaimana. Itu semua harus di pikirkan dan
outline ga bisa selesai dalam satu kali duduk saja.
5. Terakhir kamu perlu mikirin ending cerita kamu itu
seperti apa. Pikirin aja dulu. Kalau mau berubah? Itu urusan belakangan. Yng
penting kamu udah ada usulan mau dibuat seperti apa.
Fasya: Fasya lihat di KBBI kata "tapi"
tercatat sebagai bentuk tidak baku dari "tetapi."
Mengingat penggunaan "tapi" sudah sangat
umum baik dalam tulisan maupun lisan, apakah untuk karya fiksi sebaiknya tetap
menggunakan kata "tetapi"?
Bagaimana dengan dialog informal?
Apakah kata "tetapi" tidak boleh berdiri di
awal kalimat?
Dan benarkah kata "namun" tidak boleh
berdiri di tengah kalimat?
Contohnya:
1. Dia menyelam ke Palung Mariana, tetapi tidak
menggunakan alat bantu.
2. Dia menyelam ke Palung Mariana. Namun, dia tidak
menggunakan alat bantu.
Thania: Iya,
tapi Itu bentuk tak baku dari
tetapi. Dalam konteks situasi tertentu penggunaan kalimat itu bisa menjadi tak
terikat.
Contoh
Penggunaan kalimat
kamu ketika berbicara dengan guru
di kelas, sedang presentasi, pidato, mungkin akan lebih baku. Beda
konteksnya ketika tengah berbicara dengan teman atau tengah bercanda bisa aja
mungkin kata yang ga baku sama sekali keluar semua. Jadi sebenarnya itu
tergantung. Dalam karya fiksi khususnya
Misalnya dalam novel, Kalimat-kalimat yang di sajikan
itu pasti lebih santai. Biar apa? Biar ga kaku.
Karena kita membaca karya fiksi bukan buku panduan.
Kalau buku pasti memakai kata baku, sesuai kaidah, sesuai dengan kebahasaan
yang baik dan benar alasannya karena itu bersifat ilmiah sedangkan fiksi tidak.
Contoh di buku pelajaran.
"Indonesia, merupakan negara yang dikenal dengan
sebutan Agraris"
Contoh kutipan kalimatnya kalau di Novel
"Eh Cok, emang iya? Indonesia adalah salah satu
negara yang katanya disebut Agraris? Agraris apaan dah?"
Banyak kan yang ga baku disana?
Fasya: Ohh. Jadi
gini. Fasya waktu itu nanya temen, katanya ada aturan penulisan kata
"tetapi" dan "namun"
Katanya gini:
Kata "tetapi" itu gak boleh diletakkan di
awal kalimat. Contoh:
Dia menyelam ke Palung Mariana, *tetapi* tidak
menggunakan alat bantu.
Nah itu gak di awal kalimat
Dan kata "namun" gak boleh diletakkan di
tengah kalimat. Harus di awal kalimat dan diikuti koma. Contoh
Dia menyelam ke Palung Mariana. Namun, dia tidak
menggunakan alat bantu.
Nah, kalau di karya fiksi, benarkah aturannya harus
seperti itu?
Thania: Konteksnya fiksi ya ini?
Fasya: Iyup. Jadi harus mengikuti aturan atau gak
karena ini fiksi?
Ada yg katanya bebas karena fiksi, ada yg katanya
harus mengikuti aturan
Thania: Kata tetapi dan namun memang sama-sama kata
hubung. Namun, fungsinya dalam sebuah kalimat berbeda. "Tapi" itu
lebih ke perbandingan / perbedaan kalau "namun", itu lebih ke
penjelas
Misalnya
Aku mau tinggi, tapi malas berenang.
Secara fungsi kata "tapi / tetapi" disini
berfungsi sebagai sebab akibat perbandingan. Kalau aku berenang aku bisa
tinggi. Kalau aku malas berenang aku ga akan tinggi-tinggi.
Nah, kalau "namun" lebih ke penjelas, misal
"Kata Ibu, aku harus rajin berenang agar cepat
tinggi. Namun, menurut ku itu tidak perlu."
Disini kata namun juga bersifat bertentangan. Jadi
sebenarnya penggunaannya berdasarkan konteks. Tapi secara kaidah kata tetapi
itu di dahului koma. Namun, sebelum koma. Seperti contoh mu ini
Aku ingin memiliki rumah, tetapi belum ada duitnya.
Aku ingin memiliki rumah. Namun, belum ada duitnya.
Kalau di fiksi ada banyak penulis yang tetap
menggunakan kaidah itu dalam penjelasan narasi novelnya. Narasi novel cenderung
di sampaikan sesuai kaidah namun, dengan kalimat yang lebih santai atau
unformal. Kalau dalam dialog biasanya jarang ada kata namun apalagi tetapi.
Kecuali gini
Dina ingin segera pergi meninggalkan rumah ini. Namun,
suara-suara yang bergeming di kepalanya seolah melarang kakinya untung
melangkah.
Desakan demi desakan berkecamuk dalam hatinya, tetapi
rasa ragu itu terus ada. Semakin menyiksa dirinya lagi dan lagi.
Nah misal gini. Ini bukan dialog, jadi penulis fiksi
biasanya memakai itu untuk narasi atau paragraf penjelasnya.
Mita: Ka aku mau tanya soal yang penulisan
"dan" juga simbol "."
Aku masih keliru sebenernya boleh ga ka nulis dan di
awal kalimat paragraf. Kayak sehabis tanda titik kita pake kata "dan"
. Terus untuk penulisan kata dan yang benar dalam penjabaran yang benar itu
apakah di tulis semisal
"... Biologi, dan fisika"
Atau
"... Biologi dan fisika"
Thania (Owner): Misal
Pagi tadi, aku bersama dengan rekan-rekan sekolahku
berkunjung ke sebuah museum ternama di kota kami. Dengan berangkat pagi-pagi,
kami siap untuk mengisi hari dengan kegiatan yang menyenangkan. Kami
beranggotakan 5 orang, yaitu aku, Fasya, Mita, Kaila, Rapika, dan Samsugi. Kami
semua sangat antusias dan tidak sabar untuk melihat koleksi museum.
Kami berangkat menggunakan mobil bersama. Perjalanan
memakan waktu sekitar 30 menit dari sekolah. Selama perjalanan, kami semua
bercanda dan bernyanyi, membuat suasana semakin riang dan gembira. Dengan
begitu, waktu yang berlalu tak terasa. kami telah tiba di museum tersebut.
Ada beberapa penggunaan dan yang berbadan disana kan?
Ada yang di dahului koma, Ada yang tidak. Bedanya cuma
seberapa banyak Kata yang mendahuluinya. Dan yang pertama menggambarkan bahwa
Samsugi, adalah orang terakhir dari 5 orang yang pergi. Kalau dan yang kedua
itu cuma menjelaskan bahwa ada dua aktifitas yang di lakukan. Bercanda
"dan" bernyanyi tak ada aktifitas yang mereka lakukan kecuali itu.
Nah begitu lah konteks kalau kata "dan".
Untuk yang titik, Maksudnya kamu penggunakan titik
yang lebih dari satu kah? Atau cuma "."
Mita: Cuma titik aja ka. Jadi kalimat itu sebenarnya
udah selesai, tapi di kalimat berikutnya itu kita pakai kata "dan"
Sebagai pembuka di paragraf berikutnya gitu.
Thania (Owner): Kalau ini, perlu di garis bawahi.
Penggunaan dan di awal kalimat di perbolehkan apa bila dia berfungsi sebagai
kalimat penekanan di akhir paragraf. Bukan di awal paragraf, misal contoh tadi.
Pagi tadi, aku bersama dengan rekan-rekan sekolahku
berkunjung ke sebuah museum ternama di kota kami. Dengan berangkat pagi-pagi,
kami siap untuk mengisi hari dengan kegiatan yang menyenangkan. Kami
beranggotakan 5 orang, yaitu aku, Fasya, Mita, Kaila, Rapika, dan Samsugi. Kami
semua sangat antusias dan tidak sabar untuk melihat koleksi museum.
Kami berangkat menggunakan mobil bersama. Perjalanan
memakan waktu sekitar 30 menit dari sekolah. Selama perjalanan, kami semua
bercanda dan bernyanyi, membuat suasana semakin riang dan gembira. Dengan
begitu, waktu yang berlalu tak terasa. kami telah tiba di museum tersebut. Dan,
tanpa terasa, aktifitas menyenangkan itu kini harus berakhir, sebab waktu yang
sudah tak lagi mendukung
Kami berangkat menggunakan mobil bersama. Perjalanan
memakan waktu sekitar 30 menit dari sekolah. Selama perjalanan, kami semua
bercanda dan bernyanyi, membuat suasana semakin riang dan gembira. Dengan
begitu, waktu yang berlalu tak terasa. kami telah tiba di museum tersebut.
Dan, tanpa terasa, aktifitas menyenangkan itu kini
harus berakhir.
(Ini salah)
Rinai (Literasi): Izin bertanya, kak. Sebenarnya
istilahnya itu "Antalogi" atau "Antologi"?
Thania: Duanya benar, tapi kalau dari penyebutan lebih
banyak pake antalogi. Kalau dari penulisan Antologi tapi kalau penyebutan ada
juga yang nyebut antalogi. Sama kek apotik, ada yang nyebut apotik padahal
harusnyaApotek. Bahasa itu tak bisa lepas dari aspek penuturnya, semakin banyak
penuturnya semakin bervariasi lah penyebutnya. Contoh, dalam bahasa minang nih
kata jatuh aja itu ada banyak takongkang, tatilantang, tajilapak, tagarajai,
tatilungkuik, tajatuah, tataruang dan lain-lain. Padahal maknanya sama jatuh.
Tapi dalam berbagai bentuk jatuh
Jadi bahasa itu ga bisa lepas dari penuturnya dan itu
juga ada penyebabnya dan pengaruhnya. Berhubungan dengan ilmu lain salah
satunya geografi. Kondisi geografi mempengaruhi penyebaran bahasa.
Komentar
Posting Komentar