Langsung ke konten utama

Writer's Block dan Pentingnya Mencoba Menerbitkan Karya

 

"Tips Menjadi Penulis Pemula: Mengatasi Writer's Block dan Berani Menerbitkan".

Nama Pemateri: Rinai

Tanggal: 10 November 2025

Nah, saya sangat berharap, setelah sesi materi ini, kalian bisa memahami apa itu writer's block dan cara ngatasinnya, menemukan gaya dan ritme menulis untuk masing-masing orang, serta menumbuhkan keberanian untuk mempublikasikan karya.

Pernah gak sih kalian, udah buka laptop, ngetik satu kalimat terus bengong selama 2 jam?

Nah, selamat datang di klub besar bernama "The Blocked Writer's Society"

Sekarang, kita harus pahami apa sih writer's block itu?

Writer's block adalah kondisi ketika ide kita seakan macet, motivasi menurun, dan nulis terasa kayak lagi ngelawan tembok. Tapi tenang, ini bukan tanda kaliann gak berbakat kok. Cuman emang otak kalian lgi minta di cas aja. Nah, penyebab umum di writer's block itu adalah:

1. Perfeksionisme (pengen semua kalimat terlihat sempurna)

2. Ovt. Ide/Overthinking Ide (Mikir terus, tapi nulis gak jalan)

3. Lelah mental (terlalu banyak beban di kepala)

4. Takut gagal (belum juga nulis, udah ngebayangin duluan kritikan orang)

Bagian yg paling kalian tunggu nih pasti yaitu "Cara mengatasi writer's block". Cara mengatasi writer's block:

1.      "Write ugly, edit later".

Write ugly, edit later itu ya tulis aja dulu, jelek juga gapapa. Karya besar itu lahir dari keberanian menulis yang buruk. Buruk disini maksudnya semua kesalahan-kesalahan kita dalam menulis.

2.      "Jadwal nulis = mood nulis".

Jangan nunggu ada mood doang. Tpi, tetapkan jam nulis rutin yang disesuaikan dengan mood. Gak usah lama-lama, 15 menit sehari cukup kok.

3.      "Ganti suasana."

Kadang inspirasi itu gak pernah mati, cuman kita aja yang bosan dengan suasana yg itu-itu aja. Coba deh ganti suasananya, maybe nulis di taman, kafe. Atau kalo bosan nulis tangan pake pulpen, ketik aja di catatan hp bnyak kok aplikasi buat nulis zaman sekarang. Beristirahatlah sejenak. Klo nulis udh 15 menit, trus mentok istirahat 1 jam.

Lho? Sejenak kok 1 jam? Emang kek gitu. Otak kita itu kayak baterai handphone. Ngisinya lama, ngurangnya cepet. Jadi, setelah nulis 15 menit, sebaiknya kita istirahat sejenak 1 jam.

1 jam.buat ngapain aja, kak? Ya terserah kalian. Entah menyalurkan hobi olahraga yg lain. Main game, main catur, baca buku filsafat, nonton tv, nonton drakor intinya otak kalian butuh charge lagi.

4.      "Gunakan musik".

Nah, mendengarkan musik instrumental, atau musik-musik favorit kita bisa ngebantu otak buat masuk ke mode nulis, lho!

Dengan bantuan musik, kita bisa lebih fresh mikirin ide, plot, alur, atau apapun itu. Kalo aku pribadi lebih suka dengerin lagu-lagu insturmental klasik.

5.      Poin terakhir adalah "ngobrol dengan sesama penulis".

Terkadang ide datang itu bukan dari pikiran kita, tapi dari obrolan santai dimanapun kapanpun. Klo di bamasco, ada ruang obrolan santai udah disediakan buat saling sharing, yang insha Allah, ini paling ampuh buat ngatasin writer's block member bamasco.

Kadang saat sharing sesama penulis pun pasti ada perasaan takut di judgde yang bikin down. Kalau saat sharing tapi takut di judge, nah ini dia cara ngatasinnya :

1.      Ubah fokus kita dari "Apa kata orang?" Menjadi "Apa yang ingin aku katakan?".

Kamu nulis bukan buat memuaskan semua orang. Itu mustahil!. Tapi, kamu nulis itu buat menghadirkan sesuatu yang jujur dari dirimu. Aku ada aforisme sedikit untuk ini: Penulis sejati itu tak mencari tepuk tangan, tapi ia mencari gema dalam kesunyian.

2.      Ingat, ya kritik itu tanda bahwa karya mu hidup.

Kalau gak ada yg komentar, berarti mereka gak peduli. Tapi klo ada yg kritik, mengomentari, bahkan nyinyir, itu artinya karya mu berhasil menggerakkan sesuatu. Karya mu udh masuk ke perasaan si pembaca, makanya dia mengkritik tulisanmu.

3.      "Pisahkan dirimu dari karya mu".

Maksudnya adalah, kritik pada tulisanmu itu bukanlah kritik terhadap dirimu. Karya itu cman secuil dari keseluruhan isi pikiranmu, bukan seluruh jati dirimu. Jadi klo ada yg gk suka, yaudah. Itu hnya persoalan selera.

 

 

4.      Mulai dari ruang kecil dan aman.

Jadi, klo msih takut banget nih, ya mulai dari grup-grup kecil untuk teman-teman yg supportif, komunitas penulis yg saling dukung, blog pribadi online, dan sebagainya. Ntar juga kamu bakal ngerasa bahwa "ehh, ternyata dunia gak sekejam itu, ya?"

5.      Nah, yg terakhir. "Ingatlah alasan awal kamu menulis."

Kadang kita terlalu sibuk mikirin pendapat orang sampai lupa alasan kenapa kita nulis dari awal. Nah kalo udah kek gini, kamu harus "kembali ke akar". Apakah kamu menulis untuk menyembuhkan diri? Untuk berbagi cerita? Atau untuk meninggalkan jejak? Kalau alasannya kuat, suara orang lain gak akan terlalu mengguncang. Oke?

Nah, selanjutnya yaitu, "Berani Menerbitkan Karya"

1. Tidak ada karya yang sempurna. Yg sempurna itu cuma alasan untuk tidak memulai. Karya pertama pasti kaku, tapi justru dari sanalah kalian bisa tumbuh.

2. Kenali platform mu. Entah itu mulai dari Wattpad? Fizzo? Blog? Atau self-publishing di ebook? Silahkan. Pilih yang sesuai dengan gaya dan target pembacamu.

3. Terima kritikan sebagai bahan bakar. Memang bukan semua kritik harus diikuti, tapi semua kritik bisa dijadikan cermin untuk berkembang.

4. Bangun keberanian dan keterbukaan. Yups! Semakin sering kamu menampilkan karya, semakin kecil rasa takutnya.

"Kalau kamu bisa menulis untuk dirimu sendiri, kamu sudah menjadi bagian dari Penulis. Tapi, kalau kamu berani membagikannya, maka kamu sudah menjadi bagian dari sejarah."

Sudah selesai? Tentunya belum. Saya ada sedikit tambahan, sekaligus bahan renungan kita semua ya. Bagian tambahannya itu: "Mengatasi Writer's Block ala penulis hebat". Jangankan kamu. J.K Rowling, Ernest Hemingway, bahkan Sapardi Djoko Damono pun pernah mandek pas nulis. Bedanya? Mereka gak berhenti lama-lama.

1. J.K. Rowling pernah menulis di saat yang tersulit. Ia menulis "Harry Potter" di tengah tekanan hidup: kehilangan ibu, perceraian, dan kemiskinan. Bahkan ia menulis di sela ngurus anak, lho. Jdi pelajarannya? Nunggu momen sempurna itu mitos. Menulislah meski dunia gak berpihak.

2. Ernest Hemingway, saat buntu–ia punya trik sederhana: "Tulislah satu kalimat yang benar-benar jujur." Gak perlu panjang. Satu kalimat jujur bisa membuka seluruh bab berikutnya. Pelajarannya? Mulailah dari kejujuran apa adanya, bukan dari kesempurnaan.

3. Haruki Murakami, ia bangun jam 4 pagi, nulis selama 5-6 jam sehari. Tanpa harus nunggu ide datang. Ia bilang, "Menulis itu maraton, bukan Sprint" pelajarannya? Konsistensi jauh lebih kuat daripada mood.

 

Para penulis hebat bukan tidak pernah kehabisan ide, hanya saja mereka tidak menyerah saat ide tak datang. Mereka tetap duduk, menulis, dan menunggu kata untuk bisa menemukan mereka kembali.

Saya akan tutup kelas hari ini dengan pantun dan quotes penutup

Malam sunyi menatap pena,

Angin lewat membawa rasa.

Jangan takut karyamu dihina,

Karena kejujuran tak butuh pembela.

 

Mentari redup di ujung kota,

Pena terdiam di atas meja.

Tak semua tulisan lahir dari tawa,

Kadang dari luka yang tak sempat bercerita.

Oke, sekarang untuk quotes terakhir sekaligus penutup ya.

 "Menulis adalah keberanian menanggalkan topeng. Yang menertawakanmu hari ini, mungkin diam-diam belajar darimu besok" (Bang Rinai)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menentukan Ide, Konsep, Outline, Riset, dan Konsistensi

  "Menentukan Ide, Konsep, Outline, Riset, dan Konsistensi" Nama Pemateri: Rinai Tanggal: 13 November 2025 Banyak org punya ide, tapi hanya sedikit yang menulis dan lebih sedikit lagi yang menyelesaikan tulisannya. Nah, dipertemuan kali ini khusus untuk kalian yg sering terjebak di kalimat pertama, supaya ide gak cuman jadi wacana di kepala. 1.       Menentukan Ide (anggaplah biji dari segala tulisan). Yup, ide itu kayak benih. Kecil, tapi bisa tumbuh jadi pohon besar kalo dirawat. Lantas, gimana sih cara nemuin ide? Gampang! Dari pengalaman pribadi (hal-hal yg bikin kamu mikir, marah, nangis, atau terharu), isu-isu sosial atau hal-hal yang viral (yang diperbincangkan orang-orang), dari pertanyaan-pertanyaan kecil (kenapa bisa begini? Kenapa bukan begitu?), dan bahkan dari imajinasi liar (yang kadang muncul pas lagi ngopi atau di kamar mandi). Tipsnya, tulis semua ide sekecil apapun di catatan. Apa aja. Karna kadang ide terbaik datang dari hal r...

Teknik Menentukan Tema, Judul, Kata Kunci, dan Diksi Puisi

 Teknik Menentukan Tema, Judul, Kata Kunci, dan Diksi Puisi Nama Pemateri: Rapika Tanggal: Kamis, 27 November 2025 A. Tema itu dasar dan gagasan utama si puisi yang pengen di sampe in. Ibarat awal pembangunan si emosional, nah jadi dia nih yang bikin arah teks mau dibawa kemana. Nah cara nentuin si tema itu ada loh tekniknya. 1. Coba deh tanya ke diri sendiri "mau dibawa emosi apa nih puisi?". Cinta kah, rindu, marah, kritik sosial, absurd, dan lainnya. 2. Sempit kan fokus lagi lebih spesifiknya misal cinta. Jadi "cinta yang terlambat tumbuh setelah kehilangan".  3. Jangan lupa cari angle yang unik, kalian bisa ambil dari isu biasa tapi kasih perspektif yang ga biasa. Misal ya, bukan cuman "kesedihan" Tapi "kesedihan yang dikurung dalam jam weker retak." Nah ada tips yang singkat nya nih. Semakin spesifik tema yg kalian tentuin maka, makin kuat dan si tema itu inti tapi bukan keseluruhan. B. Judul. Simpelnya dia si "pintu masuk" Ke pui...

Unsur Ekstrinsik: Aspek Historis, Psikologis, Filosofis, Religius, Biografi, dan Nilai

 "Unsur Ekstrinsik: Aspek Historis, Psikologis, Filosofis, Religius, Biografi, dan Nilai.". Nama Pemateri: Rinai Tanggal: Senin, 24 November 2025     Nah, pertama tentang "Unsur Ekstrinsik". Kemarin "In" sekarang "Eks" . Kalau unsur intrinsik itu adalah "benda-benda kosmik" nya, maka unsur ekstrinsik itu adalah "semesta" yang mengelilingi puisi. Dia nongkrong di luar teks, tapi sangat berpengaruh pada proses terciptanya puisi tersebut. Analogi lainnya nih: Kalo unsur intrinsik puisi adalah kopi, maka unsur ekstrinsik nya adalah cerita para pelanggan, emosi barista, sampai suasana kafe yang bikin kamu minum kopi sambil mikir mantan. Nah, unsur-unsur ekstrinsik itu ada beberapa yang perlu dipahami diantaranya: 1. Aspek historis. Aspek historis itu meliputi tentang "kapan puisi itu dibuat?", "Ada peristiwa apa sehingga puisi itu tercipta?". Misal puisi tahun 1965 pasti beda vibes dengan puisi era video Tikto...